Merger XL Smart Untungkan Siapa?

Merger (penggabungan) antara XL Axiata dan Smarftren, atau antara Kelompok Axiata (Malaysia) dan Kelompok Sinar Mas, telah berlangsung. Entitas gabungan itu, XL Smart Telecom Sejahtera, atau XL Smart, akan resmi beroperasi pada 16 April mendatang.

Proses merger ini gegap gempita, menarik perhatian banyak pihak, media, perbankan, pengamat, analis pasar modal. Maklum ini dua raksasa di bisnis telko dan di bisnis industri berbagai hal – Smartfren tidak termasuk raksasa telko karena pendapatannya hanya belasan triliun dan ruginya satu koma trilun pada 2024 – yang melibatkan transaksi senilai Rp 104 triliun.

Merger membuat kedua entitas, kedua kelompok menjadi moncer, karena mereka akan punya 94,5 juta pelanggan, menguasai spektrum frekuensi selebar 152 MHz. Hanya sayangnya di tahun 2026 nanti pemerintah akan mengambil spektrum selebar 2X7,5 MHz di frekuensi 900 MHz milik XL Axiata, sehingga tersisa 137 MHz.

Hampir sama dengan lebar spektrum yang dikuasai IOH (Indosat Ooredoo Hutchison) yang tersisa selebar 135 MHz dengan pelanggan masing-masing sekitar 95 jutaan. Hanya saja dua tahun setelah merger, 2024, IOH berhasil meraup pendapatan sebesar Rp 55,9 trilun dengan laba Rp 4,91 triliun.

Dari merger XL dan Smartfren, pihak mana yang sebenarnya beruntung, baik dari masalah keuangan maupun citra?

Sejatinya yang pertama untung adalah para pemegang saham publik yang menguasai 30,4% saham, yang tanpa upaya apa-apa nilai saham mereka terus melejit. Harga saham XL AXiata sebebelum merger sekitar Rp 2.300, sementara lagi akan jadi Rp 3.000.

Kemudian Kelompok Axiata, induk XL Axiata, mendapat cuan 475 juta dollar AS, sekitar Rp 7,6 triliun dengan menjual 13,1% sahamnya ke Kelompok Sinar Mas untuk membuat saham mereka menjadi 34,8%, sama dengan jumlah saham yang dimiliki Axiata. Dalam keadaan normal, harga jual saham Axiata belum tentu sebesar itu.

Ledekan dividen

Axiata juga menguasai jabatan Presiden Direktur & CEO (Chief Executive Officer) XL Smart, dengan menempatkan sumber daya unggulan dengan penuh pengalaman, Rajeev Sethi. Lalu Direktur & CTO (Chief Technology Officer) Shurish Subbramaniam, sementara mantan Direktur dan CTO XL Axiata yang sempat mengundurkan diri, I Gede Darmayusa, diangkat menjadi Kepala Integrasi dan Integrasi Jaringan, khusus untuk mengembangkan rencana integrasi dan transisi jaringan untuk XL Smart.

Masalah integrasi jaringan menjadi PR terbesar XL Smart usai resmi beroperasi, karena ada sekitar 20% hingga 30% BTS (base transceiver station) mereka berhimpitan, sehingga harus dipindahkan, yang justru berpeluang memperluas kawasan cakupan komersial mereka. Apalagi Smarftren membawa spektrum frekuensi unggulan, 2300 MHz yang dioperasikan dengan teknologi TDD (time division duplexing), teknologi yang bisa membuat kapasitas operator membesar tanpa menambah kawasan cakupan, dan sangat cocok untuk kawasan bisnis yang padat.

Sementara entitas baru itu membuat kelompok Sinar Mas menguasai pos yang sangat mereka pahami dan berperan besar, keuangan, dengan menempatkan Antony Susilo Direktur Keuangan & CFO (Chief Financial Officer). Mantan Presdir Smartfren, Merza Fahys, diberi kursi sebagai Direktur & CRO (Chief Regulatory Officer).

Sinar Mas pun mendapat keuntungan citra yang sangat tinggi, pasca sepanjang 2024 pendapatan Smartfren Rp 11,41 triliun dengan rugi yang naik fantastis sebesar 1.088,81% dari rugi Rp 108,93 miliar pada 2023 menjadi rugi Rp 1,09 triliun pada 2024. Bagi Smartfren, pengalaman rugi sampai satu triliun bukanlah yang pertama kali.

Namun seolah meledek, dalam RUPS (rapat umum pemegang saham) dan RUPS-LB (luar biasa) XL Axiata dan XL Smart, diumumkan para pemegang saham XL Axiata akan mendapat dividen, pembagian keuntungan, Rp 85,7/saham yang naik dibanding Rp 48,6/lembar pada 2023, dan menjadi terbesar dalam lima tahun terakhir.

XL Axiata memang unggul dalam industri telekomunikasi seluler dengan pendapatan dan laba yang terus meningkat, Rp 34,4 triliun (naik 6%) dan laba (naik 45%) Rp 1,83 triliun pada 2024. ARPU (average revenue per user – pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) XL Axiata tembus Rp 43.000 dari 58,6 juta pelanggannya.

Jadi nomor dua

Setelah merger, pendapatan XL Smart 2,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 45,8 triliun) dan EBITDA (earn before interest, taxes, depreciation and amortization – hasil sebelum bunga, pajak, penghapusan dan pengurangan nilai aset tidak berwujud) Rp 22,5 triliun, setara margin 49%.

Dengan menjadi XL Smart, pendapatan mereka diperkirakan menjadi 2,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 45,8 triliun) dan EBITDA (earn before interest, taxes, depreciation and amortization – hasil sebelum bunga, pajak, penghapusan dan pengurangan nilai aset tidak berwujud) Rp 22,5 triliun, setara margin 49%. ARPU XL Smart (blended – campuran) sekitar Rp 40.000 karena ARPU asli Smartfren sekitar Rp 33.250.

Masalah integrasi jaringan menjadi PR terbesar XL Smart usai resmi beroperasi, karena ada sekitar 20% hingga 30% BTS (base transceiver station) mereka berhimpitan, sehingga harus sebagian dipindahkan, yang justru berpeluang memperluas kawasan cakupan komersial mereka. Apalagi Smartfren membawa spektrum frekuensi unggulan, 2300 MHz yang dioperasikan dengan teknologi TDD (time division duplexing), teknologi yang bisa membuat kapasitas operator membesar tanpa menambah kawasan cakupan, bahkan sampai daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal).

Jumlah BTS gabungan XL Smart sebanyak 211.094 unit dan dengan 165.094 BTS, XL selalu ada di mana pun Smartfren ada, tetapi tidak sebaliknya, karena Smartfren hanya punya sekitar 46.000 BTS di 288 kota besar di Indonesia dan XL melayani lebih dari 490 kota/kabupaten. Ketika terjadi integrasi, jumlah BTS XL Smart akan menjadi sekitar 255 unit yang sebagian besar BTS 4G LTE.

Spektrum frekuensi 2300 MHz membuat kapasitas unggul karena kemampuan cakupannya rendah, radius layanannya hanya sekitar 200 meter – 300 meter, sehingga untuk kawasan seluas yang diliput spektrum rendah – 850 MHz, 900 Mhz, 1800 MHz dan 2100 MHz – kapasitasnya bisa 20X – 50X lipat. Biaya modal (capex — capital expenditure) karenanya memang jadi lebih mahal karena jumlah BTS 2300 MHz yang lebih banyak dibanding, BTS frekuensi rendah tadi, yang per BTS bisa meliput radius hingga 3 kilometer lebih.

Bagaimanapun, merger akan membuat jumlah BTS hasil integrasi dan kapasitas layanan XL Smart akan jauh lebih besar dan lebih luas dibanding jika masing-masing XL Axiata dan Smartfren. Perluasan kawasan cakupan dan membesarnya kapasitas otomatis akan membuat jumlah pelaggan XL Smart bertambah, walau jika operator baru itu akan melakukan pembersihan terhadap nomor-nomor yang tidak produktif.

Mereka akan menjadi penantang baru Indosat Ooredoo Hutchison, dan berpotensi menggeser posisi dua setelah Telkomsel sebagai operator seluler pertama. Saat ini Telkomsel memiliki BTS sebanyak 270.066 unit, penguasaan spektrum frekuensi selebar 195 MHz dan pelanggan 159,9 juta.***

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled